Catatan Luka dari Garis Khatulistiwa

selaksa burung menghambur dari badai
yang  menggulung rambutmu
embun yang murung menyembunyikan kicaunya
dalam denting daun-daun
ketika kegelisahan mengajakmu menancapkan
runcing sunyi di tanah lapang wasiat para leluhur
aku pun beranjak bagai pertapa mengakhiri samadi
tapi aku masih bisa mengingat,
di mimpimu ada yang terasa tersekat
mungkin mantra atau doa
seekor kupu-kupu berbisik tentang pelangi
perih yang mendekap sukma di sujud warna-warna
tangis berpijar dari relung malam para pengembara
dan luka masih saja menganga
sebelum rerumputan menyepi dari gemulai
yang diayunkan angin
senja larut dalam riak ombak dan kepedihan matahari
menangisi badai dan warna-warna
yang tersekap di muram mimpi
Jakarta, 2008
Berujar tentang Kerinduan
pada tangkai malam yang merindangi sedihku
airmata ini kutampungkan untuk ketabahanmu
menjaga derai tangisku yang sembilu
lantaran waktu membuat kelu segala rinduku
esok, ketika matahari menyingkap subuh yang basah
kupunguti setiap mimpi yang ditabur sunyi
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
sebelum mengatup kembang di taman dicumbu embun
telah kudendangkan nyanyian perih tentang penantian
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
rindu begitu mudah dibuat goyah

Jakarta, 2008 Ahmad Subki