Berbahagialah engkau duhai para perempuan. Kalian tercipta begitu rupa, indah melebihi segala pemandangan yang ada. Ini adalah anugerah Tuhan yang harus kalian jaga, biarkan yang berhak saja yang kan tenggelam dalam berjuta pesonanya.
Duhai para perempuan. Kau adalah perhiasan terindah dunia, perhiasan dengan pemaknaan yang berbeda. Berhati-hatilah dari kesalahan persepsi yang ada. Karena bisa jadi, kalian dianggap sama selayaknya emas dan permata. Dijual, dibeli dan dipamerkan di depan berjuta pasang mata.
Duhai para perempuan. Setiap inci tubuhmu mengandung pesona. Jangan biarkan kau hamburkan di pasaran. Lalu setiap tatapan bermanja, banyak tangan menjamahnya, dan bahkan banyak bibir menciuminya. Karena yang kan tersisa, adalah keterpurukan bermahkotakan luka.
Duhai para perempuan. Jangan biarkan umpan rahwana melenakanmu. Tetaplah waspada akan tipu daya. Jangan biarkan mekar segarmu segera layu, pada musim yang tak semestinya. Ada cinta di sana yang kan menjagamu. Dan kau harus sampai padanya dengan tepat waktu. Biarkan Tuhan memapahmu, seiring ikhtiar dan keyakinanmu.
Duhai para perempuan. Untukmu yang baik lelaki baik. Percayalah itu. Maka jaga dirimu, jaga hatimu. Pasrahkan dirimu kelak pada mata yang tertunduk saat dia belum berhak. Pasrahkan pada tangan yang berusaha tak meraba sebelum waktunya. Pasrahkan pada lelaki yang bisa menjagamu, menjaga kehormatanmu dan mampu membawamu ke surga.
Duhai para perempuan. Aku sampaikan ini dengan tulus, sebagai bukti atas cintaku padamu (kaum hawa). Karena kutahu sebenarnya, banyak dari kalian yang teramat rapuh dan mudah terayu, oleh para pemain cinta.
Ini karena, masih banyak generasi harapan yang kan lahir dari rahim kalian duhai para perempuan. Dan biarkan generasi itu jauh lebih baik dari kita. Maka, tetaplah menjadi perempuan tangguh, perempuan tanpa keluh meski bermandi peluh. Perempuan yang tak mudah luluh oleh rayuan hati-hati yang keruh.
Aku masih menulis dalam diamku...dalam resahku..dalam galauku..dalam gundahku.... Apakah gerangan jiwaku yang tak mampu melukis sepi yang tak sanggup dalam kesendirian.
Tersenyumlah, Hati yang Remuk..
Teruntuk insan yang hatinya sedang diremukkanSapu air matamu yang mengalir derasRedam bara emosi yang bergejolak memanasEngkau tercipta bukan untuk menangisi zaman.
Ataupun menyesali duka laraUsah tenggelam dalam kubangan nestapaJika cintamu mengalami kegagalanJika ta’arufmu kandas di jalan.
Tersenyumlah…Awan hitam selalu menyimpan pelangiBegitupun Sang Penggenggam nyawaDia selalu punya rahasia dan bijaksanauntuk membuat dewasa makhluk-Nya.
Cinta suci sedang menunggumuTetapi engkau harus sabar menantikanCinta itu akan menjemputmuDi masa yang telah Dia rencanakan.
Teruntuk yang hatinya sedang diremukkanJangan berikan celah pada syaitanyang membuat semangatmu terlemahkanPerihnya duka bukanlah isyarat runtuhnya langitAtaupun robeknya kulit bumi.
Allah menempa pribadi tangguhmuDalam butiran air matamuDalam jeritan derita batinmuDalam rintihan sesaknya nafasmu.
Teruntuk yang hatinya sedang diremukkanPasang surut laut adalah kepastianTawa dan tangis adalah kewajaranTakdir-Nya menjadikan makhluk berpasangan.
Sebuah ketetapan Sang PenguasaJika engkau tak dapatkan pasangan di duniaBukan berarti Allah memberimu petakaTapi Dia sedang menyiapkan makhluk terindahYang menantimu di JannahYang kan menemani jiwamu yang resah
Tersenyumlah…Dalam kesabaran munajad panjangmuMeski tajamnya duri mencabik-cabik lukamuMeski remuk redam menyerang hatimu.
Ataupun menyesali duka laraUsah tenggelam dalam kubangan nestapaJika cintamu mengalami kegagalanJika ta’arufmu kandas di jalan.
Tersenyumlah…Awan hitam selalu menyimpan pelangiBegitupun Sang Penggenggam nyawaDia selalu punya rahasia dan bijaksanauntuk membuat dewasa makhluk-Nya.
Cinta suci sedang menunggumuTetapi engkau harus sabar menantikanCinta itu akan menjemputmuDi masa yang telah Dia rencanakan.
Teruntuk yang hatinya sedang diremukkanJangan berikan celah pada syaitanyang membuat semangatmu terlemahkanPerihnya duka bukanlah isyarat runtuhnya langitAtaupun robeknya kulit bumi.
Allah menempa pribadi tangguhmuDalam butiran air matamuDalam jeritan derita batinmuDalam rintihan sesaknya nafasmu.
Teruntuk yang hatinya sedang diremukkanPasang surut laut adalah kepastianTawa dan tangis adalah kewajaranTakdir-Nya menjadikan makhluk berpasangan.
Sebuah ketetapan Sang PenguasaJika engkau tak dapatkan pasangan di duniaBukan berarti Allah memberimu petakaTapi Dia sedang menyiapkan makhluk terindahYang menantimu di JannahYang kan menemani jiwamu yang resah
Tersenyumlah…Dalam kesabaran munajad panjangmuMeski tajamnya duri mencabik-cabik lukamuMeski remuk redam menyerang hatimu.
perasaan
Jika ada Perpisahan
yang membuat airmata tumpah
adalah Perpisahan karena Cinta…
Jika ada sedih yang selalu menggelayut di kelopak mata
itu adalah sedih karena Cinta
Karena Cinta pada hakikatnya
bukan untuk berpisah
tapi untuk selalu bersama
Maka ketika Ibrahim mengatakan dengan tegas
adakah Kekasih yang ingin menyakiti kekasih hatinya..
Maka Alloh pun menjawab, melalui malaikat Maut
“adakah kekasih yang tak rindu, ingin berjumpa dengan kekasih hatinya…”
Maka serentak Ibarhim pun berkata
“Segera ambil nyawaku….”!!
Iya
Cinta itu tak ingin menunggu
Cinta itu harus bertemu..
atau ketika Seorang Ustad enggan meminum Jus Mangga
setelah kematian Istrinya
alasannya
satu…
dulu meminum Jus Mangga selalu berdua dengan Istrinya
maka Istrinya kini tiada
maka Manisnya Mangga itu
terasa hambar, tanpa kehadiran Istri
Inilah Cinta
yang selalu ingin bertemu…
dalam jejak episode kehidupan kita
Alloh mungkin menyisipkan rasa Cinta ini
tapi diri sadar
menyadari logika kemanusiaan
tak mungkin bisa bertemu
seperti Sayyid Quthb
yang Tertolak Cintanya
atau Khalil Gibran
yang Sayap-sayap Jiwanya Patah
Ini adalah Realita
yang harus di terima
dan Alloh
Maha Mengerti itu semua
maka biarlah tumpah air mata ini
maka biarlah sesaat jiwa ini remuk redam
karena kita bukan malaikat
karena jiwa kita bukan besi
Jiwa kita adalah serpihan-serpihan
rasa,
cinta,
rindu,
sedih,
gairah
mengikat dalam satu kata
PERASAAN
Maka biar lah
Alloh yang Menutup episode
kisah kita
Menitip Cinta kita padanya
Cinta
Jangan Pergi….
Inginnya seperti itu
tapi jika tangan-tangan kita tak sanggup menggapainya
Janganlah putus asa
yang membuat airmata tumpah
adalah Perpisahan karena Cinta…
Jika ada sedih yang selalu menggelayut di kelopak mata
itu adalah sedih karena Cinta
Karena Cinta pada hakikatnya
bukan untuk berpisah
tapi untuk selalu bersama
Maka ketika Ibrahim mengatakan dengan tegas
adakah Kekasih yang ingin menyakiti kekasih hatinya..
Maka Alloh pun menjawab, melalui malaikat Maut
“adakah kekasih yang tak rindu, ingin berjumpa dengan kekasih hatinya…”
Maka serentak Ibarhim pun berkata
“Segera ambil nyawaku….”!!
Iya
Cinta itu tak ingin menunggu
Cinta itu harus bertemu..
atau ketika Seorang Ustad enggan meminum Jus Mangga
setelah kematian Istrinya
alasannya
satu…
dulu meminum Jus Mangga selalu berdua dengan Istrinya
maka Istrinya kini tiada
maka Manisnya Mangga itu
terasa hambar, tanpa kehadiran Istri
Inilah Cinta
yang selalu ingin bertemu…
dalam jejak episode kehidupan kita
Alloh mungkin menyisipkan rasa Cinta ini
tapi diri sadar
menyadari logika kemanusiaan
tak mungkin bisa bertemu
seperti Sayyid Quthb
yang Tertolak Cintanya
atau Khalil Gibran
yang Sayap-sayap Jiwanya Patah
Ini adalah Realita
yang harus di terima
dan Alloh
Maha Mengerti itu semua
maka biarlah tumpah air mata ini
maka biarlah sesaat jiwa ini remuk redam
karena kita bukan malaikat
karena jiwa kita bukan besi
Jiwa kita adalah serpihan-serpihan
rasa,
cinta,
rindu,
sedih,
gairah
mengikat dalam satu kata
PERASAAN
Maka biar lah
Alloh yang Menutup episode
kisah kita
Menitip Cinta kita padanya
Cinta
Jangan Pergi….
Inginnya seperti itu
tapi jika tangan-tangan kita tak sanggup menggapainya
Janganlah putus asa
kau masih kekasih ku
Terik mnyengat tak ku rasa silirmu menyapu lelah ku bayu,,,
Telaga biru,, senandung sendu,, hadir ungkap rindu
Klenting gitar mu terdengar merayu membawa syahdu dlm buih hati ku
Membingkis alunan kasih d’tiap nada
Seulas senyum itu adlh penawar rindu mmbasuh dahaga diri ku yg rapuh
Tersirat kanangan itu, d’tepi telaga biru kau mainkan gitarmu kau nyanyikan lgu kesukaan ku “kenangan terindah” sungguh lapang hati ku untuk melepas mu jauh
namun sempit nyaliku untuk melupaknmu
Aku masih disini dengn utuh cnta
Dengn rasa bngga
Tangis ku meraung jerit ku menggema oh dunia… Cinta ku akan pergi binasa,,,
Terpilih karena yakin mnyayang karena ENGkau
Memiliki namun tak mnyentuh
deburan ombak mu tak mampu hanyutkan cnta yg ku tanam anggun untukmu
Senyap..kesndirian tak terbyang bhkan aku abaikan
ruh mlyang trjerembab nestapa terkolek duka
Mncinta bukan d’cnta adlah stu derita
snjata mnghiris pnuh luka namun tetap sama kau yg aku puja…
By: Wrruzz Ivanka
Telaga biru,, senandung sendu,, hadir ungkap rindu
Klenting gitar mu terdengar merayu membawa syahdu dlm buih hati ku
Membingkis alunan kasih d’tiap nada
Seulas senyum itu adlh penawar rindu mmbasuh dahaga diri ku yg rapuh
Tersirat kanangan itu, d’tepi telaga biru kau mainkan gitarmu kau nyanyikan lgu kesukaan ku “kenangan terindah” sungguh lapang hati ku untuk melepas mu jauh
namun sempit nyaliku untuk melupaknmu
Aku masih disini dengn utuh cnta
Dengn rasa bngga
Tangis ku meraung jerit ku menggema oh dunia… Cinta ku akan pergi binasa,,,
Terpilih karena yakin mnyayang karena ENGkau
Memiliki namun tak mnyentuh
deburan ombak mu tak mampu hanyutkan cnta yg ku tanam anggun untukmu
Senyap..kesndirian tak terbyang bhkan aku abaikan
ruh mlyang trjerembab nestapa terkolek duka
Mncinta bukan d’cnta adlah stu derita
snjata mnghiris pnuh luka namun tetap sama kau yg aku puja…
By: Wrruzz Ivanka
KU SAPA DIRIMU
SEPI,,
Ku merasa sepi, lenyapmu tak mampu ku mengerti
Dari mana awal itu,,dari mana segala itu sungguh ku tak menau
Ku rasakan kau bs merubah sepi ku saat kau ada saat kau menyapa namun kini telah hilang tertelan maya,, berdosakah jika aku ingin tau mengapa??
Mula yg manis asa yg indah semua hanya membuat aku menggila dalam maya,, aku tak prna jatuh cinta maya aku inginkan cinta yg nyata namun sebelum ku rasa semua telah enyah,,,
Kau dimana kau kemana?? Sapa mu tak ada suaramu tak ku dengar pula,,, oh maya kau membuat aku mnggilainya namun kau jg membuat aku membencinya
Aku yg mulai menyemaikan cinta mengubah semua rasa yg telah aku tanam dalam dasar jiwa harus ku pangkas hingga tak tersisa,,
Aku dari jauh menyapamu semoga kau masih d’sana dengan bangga membaca ringkasan hati yg terluka karena cinta maya yg kau semai namun tak kau pelihara,,,
Salam ku dari jauh,,,
By:Ruzzya
Ku merasa sepi, lenyapmu tak mampu ku mengerti
Dari mana awal itu,,dari mana segala itu sungguh ku tak menau
Ku rasakan kau bs merubah sepi ku saat kau ada saat kau menyapa namun kini telah hilang tertelan maya,, berdosakah jika aku ingin tau mengapa??
Mula yg manis asa yg indah semua hanya membuat aku menggila dalam maya,, aku tak prna jatuh cinta maya aku inginkan cinta yg nyata namun sebelum ku rasa semua telah enyah,,,
Kau dimana kau kemana?? Sapa mu tak ada suaramu tak ku dengar pula,,, oh maya kau membuat aku mnggilainya namun kau jg membuat aku membencinya
Aku yg mulai menyemaikan cinta mengubah semua rasa yg telah aku tanam dalam dasar jiwa harus ku pangkas hingga tak tersisa,,
Aku dari jauh menyapamu semoga kau masih d’sana dengan bangga membaca ringkasan hati yg terluka karena cinta maya yg kau semai namun tak kau pelihara,,,
Salam ku dari jauh,,,
By:Ruzzya
Catatan Luka dari Garis Khatulistiwa
selaksa burung menghambur dari badai
yang menggulung rambutmu
embun yang murung menyembunyikan kicaunya
dalam denting daun-daun
ketika kegelisahan mengajakmu menancapkan
runcing sunyi di tanah lapang wasiat para leluhur
aku pun beranjak bagai pertapa mengakhiri samadi
tapi aku masih bisa mengingat,
di mimpimu ada yang terasa tersekat
mungkin mantra atau doa
seekor kupu-kupu berbisik tentang pelangi
perih yang mendekap sukma di sujud warna-warna
tangis berpijar dari relung malam para pengembara
dan luka masih saja menganga
sebelum rerumputan menyepi dari gemulai
yang diayunkan angin
senja larut dalam riak ombak dan kepedihan matahari
menangisi badai dan warna-warna
yang tersekap di muram mimpi
Jakarta, 2008
Berujar tentang Kerinduan
pada tangkai malam yang merindangi sedihku
airmata ini kutampungkan untuk ketabahanmu
menjaga derai tangisku yang sembilu
lantaran waktu membuat kelu segala rinduku
esok, ketika matahari menyingkap subuh yang basah
kupunguti setiap mimpi yang ditabur sunyi
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
sebelum mengatup kembang di taman dicumbu embun
telah kudendangkan nyanyian perih tentang penantian
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
rindu begitu mudah dibuat goyah
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
yang menggulung rambutmu
embun yang murung menyembunyikan kicaunya
dalam denting daun-daun
ketika kegelisahan mengajakmu menancapkan
runcing sunyi di tanah lapang wasiat para leluhur
aku pun beranjak bagai pertapa mengakhiri samadi
tapi aku masih bisa mengingat,
di mimpimu ada yang terasa tersekat
mungkin mantra atau doa
seekor kupu-kupu berbisik tentang pelangi
perih yang mendekap sukma di sujud warna-warna
tangis berpijar dari relung malam para pengembara
dan luka masih saja menganga
sebelum rerumputan menyepi dari gemulai
yang diayunkan angin
senja larut dalam riak ombak dan kepedihan matahari
menangisi badai dan warna-warna
yang tersekap di muram mimpi
Jakarta, 2008
Berujar tentang Kerinduan
pada tangkai malam yang merindangi sedihku
airmata ini kutampungkan untuk ketabahanmu
menjaga derai tangisku yang sembilu
lantaran waktu membuat kelu segala rinduku
esok, ketika matahari menyingkap subuh yang basah
kupunguti setiap mimpi yang ditabur sunyi
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
sebelum mengatup kembang di taman dicumbu embun
telah kudendangkan nyanyian perih tentang penantian
sebab gelisah hanya sampai pada pasrah
rindu begitu mudah dibuat goyah
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
Nisrina 5
kusam rembulan di pangkuan gelombang, sayang
adalah cintaku yang terkapar
ingin kutanam setangkai kemilau
di jiwamu yang menawarkan malam
ketika embun menujumku dengan kelembutan kabut
langit lembayung dan hujan yang mengantarkan halilintar
ke mana akan kutancapkan belati
selain kepada cahaya yang kian sirna
mendekatimu dengan desir yang parau
aku terlempar setelah mencoba menggapai badai
yang terlontar dari pekat tatapanmu
ingin kupenggal waktu dari perputaran dunia
sebab cinta tak pernah setia di dekapan warna-warna
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
adalah cintaku yang terkapar
ingin kutanam setangkai kemilau
di jiwamu yang menawarkan malam
ketika embun menujumku dengan kelembutan kabut
langit lembayung dan hujan yang mengantarkan halilintar
ke mana akan kutancapkan belati
selain kepada cahaya yang kian sirna
mendekatimu dengan desir yang parau
aku terlempar setelah mencoba menggapai badai
yang terlontar dari pekat tatapanmu
ingin kupenggal waktu dari perputaran dunia
sebab cinta tak pernah setia di dekapan warna-warna
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
Nisrina 4
setiap kali langit basah
kau mengajariku berbenah
dari rindu yang tak selalu tabah
bermukim di rindang tatapanmu
aku terhenyak oleh sendu yang lunak
resah mencabikku dengan runcing penyesalan
tapi sejuk di matamu mendekapku tanpa kegalauan
laut dan gelombang yang menghantamkan badai
terbaring di bawah teduh kerling matamu
kemilau menantangku bergumul dengan kesyahduan
ingin kusumpal luka karena badik yang dihunjamkan cinta
lalu kulepas rindu dari candu waktu
di dermaga segala cahaya
kausuguhkan gemuruh dari rembulan yang berlabuh
untukku yang mulai luluh
karena tatapanmu
aku sirna dari semesta nestapa
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
kau mengajariku berbenah
dari rindu yang tak selalu tabah
bermukim di rindang tatapanmu
aku terhenyak oleh sendu yang lunak
resah mencabikku dengan runcing penyesalan
tapi sejuk di matamu mendekapku tanpa kegalauan
laut dan gelombang yang menghantamkan badai
terbaring di bawah teduh kerling matamu
kemilau menantangku bergumul dengan kesyahduan
ingin kusumpal luka karena badik yang dihunjamkan cinta
lalu kulepas rindu dari candu waktu
di dermaga segala cahaya
kausuguhkan gemuruh dari rembulan yang berlabuh
untukku yang mulai luluh
karena tatapanmu
aku sirna dari semesta nestapa
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
Nisrina 3
sebab waktu tercabik amarah
dan gelisah mengajariku pasrah
kupersembahkan awan yang terkulai
kekalahan yang kian mengintai
penantian adalah tangis yang tak selesai oleh derai, sayang
jika cinta hanya luka yang diagungkan cakrawala
sampai kapan harus kueja gelak di gemetar bibirmu?
tak mampu kupacu laju rindu bersama lenguh nafasku
seringkali kita berbincang di relung malam
gelombang pasang dan bintang yang terlempar melintang
adalah kisah yang tersungkur dalam pelukan resah
menunda canda dengan kristal airmata
tak akan kukirimkan selaksa derita dari perih cintaku
meski rindu merapuhkan riwayat hidupku
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
dan gelisah mengajariku pasrah
kupersembahkan awan yang terkulai
kekalahan yang kian mengintai
penantian adalah tangis yang tak selesai oleh derai, sayang
jika cinta hanya luka yang diagungkan cakrawala
sampai kapan harus kueja gelak di gemetar bibirmu?
tak mampu kupacu laju rindu bersama lenguh nafasku
seringkali kita berbincang di relung malam
gelombang pasang dan bintang yang terlempar melintang
adalah kisah yang tersungkur dalam pelukan resah
menunda canda dengan kristal airmata
tak akan kukirimkan selaksa derita dari perih cintaku
meski rindu merapuhkan riwayat hidupku
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
Nisrina 2
berkisar di antara rindu dan keberanian yang terbelenggu
cinta adalah kerapuhan yang berujar tentang keraguan
maka selain airmata tak ada lagi yang bermakna
…
setiap memandang laut aku mampu merenungi kabut
tapi badai bergelora dan hujan meredakan langit tembaga
maka gelisah menimpa
sebab kita tercipta dari perih yang sama
mendekatlah dengan rindu berkobar dan keberanian yang berpijar
lalu kudekap engkau dengan keniscayaan yang kekal
keniscayaan yang sakral
berkisar di antara rindu dan keberanian yang terbelenggu
aku selalu berharap memilikimu
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
cinta adalah kerapuhan yang berujar tentang keraguan
maka selain airmata tak ada lagi yang bermakna
…
setiap memandang laut aku mampu merenungi kabut
tapi badai bergelora dan hujan meredakan langit tembaga
maka gelisah menimpa
sebab kita tercipta dari perih yang sama
mendekatlah dengan rindu berkobar dan keberanian yang berpijar
lalu kudekap engkau dengan keniscayaan yang kekal
keniscayaan yang sakral
berkisar di antara rindu dan keberanian yang terbelenggu
aku selalu berharap memilikimu
Jakarta, 2008 Ahmad Subki
Nisrina 1
untukmu,
ingin kurajutkan segenap pagi dari kering rerumputan
yang ditelantarkan embun…
aku maknai halilintar yang merambati binar matamu
sebagai gerak yang terbelenggu kesemuan ruang dan waktu
ketika semua jejak berlari ke kubur waktu silam
selepas pagi meniupkan matahari dari malam sepi
masihkah ombak menderaskan arus dalam hening mimpimu
sehingga dahan yang patah tetap setia
mengkhalwatkan luka pada diam batu-batu
gugur embun mengutuk bayang-bayang fajar
kiranya kuarungi samudra rahasia dalam diammu
akankah kauremukkan sehelai sesal
yang mendesirkan gelisah hidupku
pada rindu yang diluhurkan waktu
Jakarta, 2007 Ahmad Subki
ingin kurajutkan segenap pagi dari kering rerumputan
yang ditelantarkan embun…
aku maknai halilintar yang merambati binar matamu
sebagai gerak yang terbelenggu kesemuan ruang dan waktu
ketika semua jejak berlari ke kubur waktu silam
selepas pagi meniupkan matahari dari malam sepi
masihkah ombak menderaskan arus dalam hening mimpimu
sehingga dahan yang patah tetap setia
mengkhalwatkan luka pada diam batu-batu
gugur embun mengutuk bayang-bayang fajar
kiranya kuarungi samudra rahasia dalam diammu
akankah kauremukkan sehelai sesal
yang mendesirkan gelisah hidupku
pada rindu yang diluhurkan waktu
Jakarta, 2007 Ahmad Subki
Hasti
menatapmu…
adalah keberanian ombak menantang matahari
beri aku sepenggal embun yang terakhir dari gerai rambutmu
meski gigil di tubuhku membekukan bait-bait puisi
namun, tetap kurengkuh kelembutan tetesnya yang berdenting
aku tahu di matamu topan bersarang, hasti
meluluhkan cakrawala dengan keganasan airmata
tapi di terik nafasku kusumpal suara gelegar
agar dentumnya singgah dalam gaduh topanmu
menulis puisi untukmu, hasti
adalah gemetar yang tersangkut di ujung daun
Jakarta, Agustus 2007 Ahmad Subki
adalah keberanian ombak menantang matahari
beri aku sepenggal embun yang terakhir dari gerai rambutmu
meski gigil di tubuhku membekukan bait-bait puisi
namun, tetap kurengkuh kelembutan tetesnya yang berdenting
aku tahu di matamu topan bersarang, hasti
meluluhkan cakrawala dengan keganasan airmata
tapi di terik nafasku kusumpal suara gelegar
agar dentumnya singgah dalam gaduh topanmu
menulis puisi untukmu, hasti
adalah gemetar yang tersangkut di ujung daun
Jakarta, Agustus 2007 Ahmad Subki
Anne Frank
di runcing luka yang menancapkan secercah sepi
engkau bersembunyi mengubur suara ketukan pada liang petang
berlari dari percikan tangis sebelum menapaki gelisah
dengan desah embun yang merebak ke puncak mimpi
sedang di luar sebongkah api memainkan rembulan
mencumbu angin layaknya sepasang kekasih
yang bersenandung tentang airmata dan darah
seperti gugusan asap tertebas badai
:kebohongan
engkau masih menuliskan semua luka
meski cahaya tertimbun berkeping-keping pekat yang luruh
dan dalam isakanmu aku menemukan seberkas sinar
memantul ke langit basah yang menggelar malam
menembus setiap denyut waktu di kelelahan silam
aku membacamu lewat kerling airmata yang membuncah
mencari tangismu di antara kelopak badai
berharap menjumpai senyummu di puing-puing remang
Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki
engkau bersembunyi mengubur suara ketukan pada liang petang
berlari dari percikan tangis sebelum menapaki gelisah
dengan desah embun yang merebak ke puncak mimpi
sedang di luar sebongkah api memainkan rembulan
mencumbu angin layaknya sepasang kekasih
yang bersenandung tentang airmata dan darah
seperti gugusan asap tertebas badai
:kebohongan
engkau masih menuliskan semua luka
meski cahaya tertimbun berkeping-keping pekat yang luruh
dan dalam isakanmu aku menemukan seberkas sinar
memantul ke langit basah yang menggelar malam
menembus setiap denyut waktu di kelelahan silam
aku membacamu lewat kerling airmata yang membuncah
mencari tangismu di antara kelopak badai
berharap menjumpai senyummu di puing-puing remang
Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki
Surat Rahasia Untuk Guruku
siapa yang menancapkan secercah titik
di mataku, guru?
jangan kaueja hamparan huruf yang tumbuh kelak
sebab tangisku adalah kepak kupu-kupu yang rindu pulang
apalagi kembang petuahmu tak menyediakan liang kemilau
tempatku bersamadi dan bersemayam
aku bukan angka-angka yang berwajah lama
melainkan gemericik air di celah batu yang mencipata rongga
tapi tak pernah kaubaca dengung siulku sebagaimana suara
selama rahasia melesat ke pucuk-pucuk waktu
menghilang ke kubur masa silamku
mengabarkan semesta dengan kuncup bunga-bunga
kauajari aku menyulam badai dalam dada
dan engkau pula yang mematahkannya
entah karena apa
Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki
di mataku, guru?
jangan kaueja hamparan huruf yang tumbuh kelak
sebab tangisku adalah kepak kupu-kupu yang rindu pulang
apalagi kembang petuahmu tak menyediakan liang kemilau
tempatku bersamadi dan bersemayam
aku bukan angka-angka yang berwajah lama
melainkan gemericik air di celah batu yang mencipata rongga
tapi tak pernah kaubaca dengung siulku sebagaimana suara
selama rahasia melesat ke pucuk-pucuk waktu
menghilang ke kubur masa silamku
mengabarkan semesta dengan kuncup bunga-bunga
kauajari aku menyulam badai dalam dada
dan engkau pula yang mematahkannya
entah karena apa
Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki