untukmu,
ingin kurajutkan segenap pagi dari kering rerumputan
yang ditelantarkan embun…
aku maknai halilintar yang merambati binar matamu
sebagai gerak yang terbelenggu kesemuan ruang dan waktu
ketika semua jejak berlari ke kubur waktu silam
selepas pagi meniupkan matahari dari malam sepi
masihkah ombak menderaskan arus dalam hening mimpimu
sehingga dahan yang patah tetap setia
mengkhalwatkan luka pada diam batu-batu
gugur embun mengutuk bayang-bayang fajar
kiranya kuarungi samudra rahasia dalam diammu
akankah kauremukkan sehelai sesal
yang mendesirkan gelisah hidupku
pada rindu yang diluhurkan waktu
Jakarta, 2007 Ahmad Subki