siapa yang menancapkan secercah titik
di mataku, guru?
jangan kaueja hamparan huruf yang tumbuh kelak
sebab tangisku adalah kepak kupu-kupu yang rindu pulang
apalagi kembang petuahmu tak menyediakan liang kemilau
tempatku bersamadi dan bersemayam
aku bukan angka-angka yang berwajah lama
melainkan gemericik air di celah batu yang mencipata rongga
tapi tak pernah kaubaca dengung siulku sebagaimana suara
selama rahasia melesat ke pucuk-pucuk waktu
menghilang ke kubur masa silamku
mengabarkan semesta dengan kuncup bunga-bunga
kauajari aku menyulam badai dalam dada
dan engkau pula yang mematahkannya
entah karena apa
Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki