Anne Frank

di runcing luka yang menancapkan secercah sepi
engkau bersembunyi mengubur suara ketukan pada liang petang
berlari dari percikan tangis sebelum menapaki gelisah
dengan desah embun yang merebak ke puncak mimpi
sedang di luar sebongkah api memainkan rembulan
mencumbu angin layaknya sepasang kekasih
yang bersenandung tentang airmata dan darah
seperti gugusan asap tertebas badai
:kebohongan
engkau masih menuliskan semua luka
meski cahaya tertimbun berkeping-keping pekat yang luruh
dan dalam isakanmu aku menemukan seberkas sinar
memantul ke langit basah yang menggelar malam
menembus setiap denyut waktu di kelelahan silam
aku membacamu lewat kerling airmata yang membuncah
mencari tangismu di antara kelopak badai
berharap menjumpai senyummu di puing-puing remang

Jakarta, Februari 2007 Ahmad Subki